Sabtu, 15 Februari 2020 03:45

Usaha menyelamatkan paru-paru Dunia

Ditulis oleh

Usaha menyelamatkan paru-paru Dunia

Langkah kecil dengan cara menyebar luaskan penanaman pohon di beberapa tempat, akan tetapi mempunyai harapan dapat menyelamatkan “paru-paru bumi”. Setiap bibit yang ditanam akan tumbuh subur dan memberikan rumah-rumah bagi satwa, terutama kehidupan binatang terbang “burung”. Bagi kelangsungan manusia tentunya hal tersebut dapat memberikan dampak yang positif bagi kebutuhan paru-paru manusia, sebagai filter CO2 yang semakin menghimpit setiap hirupan nafas mahkluk hidup pada umumnya. Semakin tergusurnya zona hijau di belahan bumi manapun, tergusur oleh beton-beton yang menjulang. Menantang kelestarian alam, bahkan sebagian merusak ekosistem yang sudah berlangsung ratusan juta tahun, bahkan milyaran. Pohon-pohon keras yang menopang kehidupan alam semakin habis, dan meranggas, menangis meratapi polusi yang semakin meraja.

Perlu perhatian dan kepedulian oleh semua pihak, terlebih jika mengingat kehidupan anak cucu kita yang entah akan menjalani kehidupan dengan segala macam permasalahan pada kehidupan dunia yang akan datang, terutama masalah kesehatan. Gaya hidup yang konsumtif, makanan yang tidak lagi steril dan bergizi, polusi udara yang semakin memburuk, bahkan di Ibu Kota mendapat predikat salah satu kota dengan tingkat polusi udara yang cukup membahayakan. Akankah kota Yogyakarta yang lekat dengan kehidupan budaya yang beraneka serta keasrian wilayahnya akan kita biarkan tercemar, dan menyusul predikat kota dengan polusi tinggi.

Salah atu upaya yang dilakuan civitas SMA Negeri 1 Pleret, dengan program adiwiyatanya yaitu dengan menanaman dan pelestraian lingkungan hijau. Bekerja sama dengan Dinas Kehutanan dan Pertanian Provinsi Daerah Istimewa, dalam pengadaan bibit tanaman keras. Didukung dan kerjasama kolaboratif dengan Instansi sekitar sekolah, melakukan penanaman pohon keras di sekitar lokasi Pasar Pleret dan sepajang jalan depan sekolah. Tanggapan pihak-pihak lain tentunya akan memberikan dukungan moril yang luar biasa bagi usaha Tim Adiwiyata untuk melestasrikan zona hijau. Di tengah marak nya kesibukan siswa yang semakin terseret dalam arus perkembangan teknologi,  harus diimbangi dengan kepedulian dan pembiasaan untuk peduli pada lingkungan sekitar. Entah berapa tahun lagi, tanaman-tanaman tersebut akan memberikan kontribusi bagi kehidupan mereka. Memberikan suasana dan lingkungan yang bersih, sehat, nyaman dan lestari. Jumat, 14 Februari 2020, penanam pohon dilakukan oleh Bapak Kepala Sekolah Drs. Imam Nurrohmat dan beberapa siswa, tak ketinggalan pula Ketua Program Adiwiyata SMA N 1 Pleret Ibu Sudaryanti, S.Si, M.Pd beserta TIM yang tidak kenal lelah dan tidak ada kata “berhenti” untuk melestarikan usaha penghijauan.

Mari kita dukung setiap kegiatan dan program pelestarian alam kita, terutama penghijauan dan zona-zona hijau, dengan harapan langkah kecil ini akan menjadi sebuah usaha yang dapat dilihat dan dihargai oleh semua lingkungan. Admin:mas@agung>

GERAKAN PENGURANGAN SAMPAH PLASTIK

 

Kegiatan di awal tahun pelajaran 2019/2020, SMA Negeri 1 Pleret kembali mencanangkan Gerakan Pengurangan Sampah. Hal tersebut dimaksudkan untuk lebih mengerucutkan persiapan SMA Negeri 1 Pleret dalam menuju sekolah Adiwiyata maka dipandang perlu untuk mendorong dan melaksanakan penggelolaan sampah sebagai salah satu implementasi Gerakan Penggurangan Sampah ini. Sehubungan dengan program tersebut maka, ada beberapa langkah, antara lain

  1. Penyediaan Galon Air Minum di tiap Kelas
  2. Membawa tempat makan dan minum (gelas atau tumbler) secara mandiri oleh siswa
  3. Meminimalisir penggunaan bahan dan sampah plastik
  4. Membuang sampah pada tempatnya sesuai dengan jenisnya
  5. Menggolah sampah plastik dengan 3 R (reduce, reuse, recycle)

Dengan konsep program Adiwiyata, khususnya dalam hal ini masalah sampah plastik di SMA Negeri 1 Pleret lebih dapat mendorong program adiwiyata semakin nyata dan sukses. Seperti halnya yang di langsir di Laman www.kompasiana.com, pada tanggal 15 April 2019   “Dampak dan Bahaya Sampah Plastik”…… Ada 4.000 botol plastik yang digunakan setiap detik. Mengapa ini hal yang buruk? Karena plastik tidak pernah benar-benar hilang. Itu hanya pecah menjadi potongan-potongan kecil dan lebih kecil yang disebut mikroplastik. Diperlukan 450 tahun untuk satu botol plastik pecah di lautan atau tempat pembuangan sampah. Menggunakan botol air yang dapat digunakan kembali adalah perubahan sederhana dengan dampak besar! Kemana-kemana boleh tuh bawa botol minum sendiri seperti Tupperware atau yang lainnya . Demikian begitu bahayanya dampak penggunaan plastik dalam kehidupan kita.

Disampaing itu SMA Negeri 1 Pleret, dalam setiap bulannya pada tanggal 14 maka dicanangkan sebagai Hari Krida, dimana semua elemen sekolah mulai dari bapak Ibu Guru Karyawan dan seluruh siswa akan melaksanakan bakti lingkungan, dan kebetulan bertepatan  hari ini Selasa, 14 Januari 2020.  Kegiatan ini meliputi usaha kebersihan di semua elemen yang ada di sekolah, jalan utama, jalan setapak, lingkungan taman sekolah, kamar mandi, kolam ikan dan berbagai sudut ruangan yang ada di SMA Negeri 1 Pleret.

Pada kesempatan kali ini juga, Tim Adiwiyata SMA Negeri 1 Pleret, pada divisi pemanfaatan Limbah dan Sampah Organik, telah meluncurkan hasil penggolahan sampah organik, yaitu berupa penyubur tanaman, yaitu “Kompos Buma Jaya”. Hal tersebut dimungkinkan untuk penyuburan tanah dan tanaman di lingkungan SMA Negeri 1 Pleret, disamping untuk produksi komsumtif masyarakat luas. Hal tersebut mempunyai manfaat ganda yang luar biasa. Para siswa yang menggelola sampah dan menjadi kompos tentunya akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang luar biasa, sekaligus biaya untuk membeli pupuk bagi keperluan perawatan tanaman di SMA Negeri 1 Pleret semakin dapat diefektifkan, dan tentunya usaha ini mempunyai peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Admin:Mas@gung>

Kamis, 02 Januari 2020 05:57

Sosialisasi Budaya Pemerintah DIY

Ditulis oleh

SATRIYA 1

Sosialisasi Budaya Pemerintah DIY 

 

Mengawali agenda kegiatan  Semester 2 Tahun Pelajaran 2019.2020, Guru serta suluruh karyawan SMA N 1 Pleret, mengikuti Acara Sosialisasi Budaya Pemerintah, yaitu Satriya. Kamis 2 Januari 2020 di Aula SMA N 1 Pleret, yang sekaligus sebagai momentum di awal tahun. Dalam kesempatan kali ini menghadirkan beliau Kepala Bagian Reformasi Birokrasi Biro Organisasi Setda DIY Bapak Faisol Muslim, S.I.P. M.Si, acara dibuka dengan Sambutan Bapak Kepala Sekolah, Drs. Imam Nurrohmat, yang menyampaikan betapa pentingya budaya Satriya, dan kita sebagai ujung tombak Pendidikan sangat berpean aktif dalam penggembangan budaya yang ada di lingkungan Pendidikan Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara dilanjutkan pemaparan.

Budaya Pemerintahan SATRIYA yang telah ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Nomor 72 Tahun 2008 tentang Budaya Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah bentuk komitmen Pemerintah Provinsi DIY dalam mencapai keberhasilan transformasi birokrasi.yang berbasiskan pada nilai nilai kearifan lokal DIY, yaitu filosofi hamemayu hayuning bawana dan ajaran moral sawiji, greget, sengguh ora mingkuh serta dengan semangat golong gilig.

"Hamemayu Hayuning Bawana" mengandung makna sebagai kewajiban melindungi, memelihara serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat daripada memenuhi ambisi pribadi. Dunia yang dimaksud mencakup seluruh peri kehidupan baik dalam skala kecil (keluarga), ataupun masyarakat dan lingkungan hidupnya, dengan mengutamakan darma bakti untuk kehidupan orang banyak, tidak mementingkan diri sendiri.

Deferensiasi atau turunan dari filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dalam konteks aparatur dapat dijabarkan menjadi tiga aspek. Pertama, Rahayuning Bawana Kapurba Waskithaning Manungsa (kelestarian dan keselamatan dunia ditentukan oleh kebijaksanaan manusia). KeduaDarmaning Satriya Mahanani Rahayuning Nagara (pengabdian ksatria menyebabkan kesejahteraan dan ketentraman negara). KetigaRahayuning Manungsa Dumadi Karana Kamanungsane (kesejahteraan dan ketentraman manusia terjadi karena kemanusiaannya). Budaya Pemerintahan SATRIYA adalah merupakan nilai-nilai yang terkandung di dalam filsofi Hamemayu Hayuning BawanaSATRIYA memiliki dua makna, yakni :

Makna Pertama, SATRIYA dimaknai sebagai watak ksatria. Watak ksatria adalah sikap memegang teguh ajaran moral : sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh (konsentrasi, semangat, percaya diri dengan rendah hati, dan bertanggung jawab). Semangat dimaksud adalah golong gilig yang artinya semangat persatuan kesatuan antara manusia dengan Tuhannya dan sesama manusia. Sifat atau watak inilah yang harus menjiwai seorang aparatur dalam menjalankan tugasnya.

        Kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen Civitas SMA N 1 Pleret, dalam rangka mencapai keberhasilan transformasi birokrasi.yang berbasiskan pada nilai nilai kearifan lokal DIY. Setelah pemamaparan mengenai Budaya Satriya tersebut, dilanjutkan dengan tanya jawab, dan sharing pendapat. Kegiatan dilaksanakan sampai menjelang Dzuhur dan dilanjutkan dengan beberapa angenda sekolah awal tahun pelajaran. Admin:Mas@gung>

Minggu, 25 Agustus 2019 15:15

Peringatan Hari Pramuka ke-58

Ditulis oleh
Rabu, 14 Agustus 2019 03:16

Kegiatan Lomba Hari Kemerdekaan INDONESIA

Ditulis oleh

 

 Kegiatan Lomba Hari Kemerdekaan INDONESIA ke 74

         Momentum hari kemerdekaan RI selalu diwarnai dengan berbagai kegiatan oleh masyarakat Indonesia. Euforia kemerdekaan selalu menjadi nuansa semua kalangan, dari smua usia dan berbagai lapisan masyarakat. Sabtu 17 Agustus 2019, merupakan momentum kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 74, bertema “Menuju Indonesia Unggul”.  

           Demikian juga, perayaan hari kemerdekaan RI yang ke 74 pada kesempatan kali ini, siswa siswi SMA Negeri 1  Pleret juga ikut andil bagian. Kegiatan ini dilaksanakan lebih awal, yakni hari Rabu tanggal 14 Agustus 2019. Hal tersebut dibarengkan dengan  kegiatan sekolah, yaitu hari Krida. Kegiatan tersebut dimulai pagi hari, dengan berbagai persiapan yang telah dilakukan oleh siswa siswi sebagai anggota OSIS dan MPK. Kemeriahan dan keseruan nampak di wajah siswa siswi SMA Negeri 1  Pleret , baik yang mengikuti lomba secara langsung ataupun sebagai penyemangat kelas nya.  Kesempatan untuk membuktikan kekompakan dan kerjasama ditunjukkan siswa siswi dalam kegiatan tersebut. Rata rata kegiatan perlombaan yang diselenggarakan membutuhkan kerjasama masing-masing siswa, mulai dari balap karung berpasangan, tarik tambang dan berbagai macam perlobaan lainnya.

           Menjelang siang tengah hari, kegiatanpun dapat dilaksanakan dengan baik dan membuktikan kerjasama dari seluruh siswa siswi SMA Negeri 1  Pleret. admin.mas@gung>

Halaman 1 dari 2